Tuesday, October 14, 2014

Surga itu Bernama Raja Ampat


Raja Ampat, kata2x itu sudah ada dibenak saya beberapa tahun yang lalu untuk saya kunjungi, dan akhirnya impian itu terwujud. Banyak pengalaman baru yang saya dapatkan di sana termasuk betapa eloknya pemandangannya yang tiada duanya, sekarang saya akan berbagi sedikit pengalaman beserta beberapa gambar yang sempat diabadikan.

Pemandangan dari Pesawat saat akan mendarat di Sorong

Raja Ampat terletak di Propinsi Papua Barat, dari namanya sudah ketahuan asal dari Raja Ampat yang berarti empat raja dengan empat pulau utama yaitu Misool, Waigeo, Salawati dan Batanta. Untuk ke sana anda harus melakukan perjalanan yang bisa dibilang sangat panjang dan melelahkan, dari daerah asal anda harus ke kota Sorong terlebih dahulu, di sana anda akan mendarat di Bandara Dominique Edward Osok, hampir semua maskapai terutama dari Jakarta mendarat di pagi hari di sana, perjalanan dilanjutkan ke Waisai dengan menaiki kapal besar tidak jauh dari bandara namun jadwal keberangkatan kapal hanya sekali sehari yaitu pada pukul 14.00 WIT kecuali pada Jum’at ada kapal pagi sekitar jam 9, namun sembari menunggu kapal anda bisa berkeliling kota Sorong terlebih dahulu, ada salah satu tempat yang menjadi ikon kota Sorong yaitu Pagoda Sapta Ratna, sayang sekali pada saat ke sana sedang ada acara keagamaan jadi saya tidak diperkenankan untuk masuk dan mengambil gambar.

Peta Raja Ampat


Suasana Di depan Bandara 

Jalanan Kota Sorong

Ternyata di Sorong juga ada Rumah Makan Padang, Perut dijamin aman


Pada Malam Hari Banyak Penjual Makanan Sea Food 



Setelah berkeliling kota dan beristirahat, tepat pukul 13.30 WIT saya berangkat ke pelabuhan Sorong, pelabuhan ini terletak tak jauh dari bandara, walau perjalanan sempat tertunda beberapa menit dari jadwal semula jam 14.00 WIT namun kapal tetap berangkat menuju Pelabuhan waisai, tarif kapal cepat ekonomi sekitar Rp. 130.000, untuk VIP Rp. 220.000, saya menyarankan anda membeli tarif ekonomi saja karena sungguh sayang jika anda jauh-jauh menyeberang ke Raja Ampat tapi tak menikmati lautannya, di kapalpun saya kembali bertemu teman baru dari Belanda, Gidon namanya, di atap kapal kami sempat bercengkrama dan bercerita tentang Amsterdam, Ajax, Bali dan Jakarta tentunya, sempat pula saya menceritakan tentang daerah2x yg sempat di kunjungi di Indonesia dan dia tertarik untuk berkunjung terutama ingin sekali merasakan sensasi berenang bersama ubur-ubur di Kakaban.



Menuju Kapal (Pelabuhan Kota Sorong)

Kapal-kapal yang bersandar di Pelabuhan Kota Sorong

Gidon, Teman baru asal Belanda yang saya kenal di atap kapal

Meninggalkan Kota Sorong

Suasana di dalam Kapal

Sekitar jam 16.30 WIT kapal mendarat di Pelabuhan Waisai, setiba di sana kami disambut oleh tarian Khas Papua, kebetulan saat itu ada kunjungan dari seorang pejabat pemerintahan jadi kami ikut merasakan sambutan dari para musisi dan anak-anak asli Papua, tanpa berpikir lama2x saya mengeluarkan kamera dan mengabadikan tarian penyambutan tersebut “that’s cool, wonderfull” kata Gidon, dia pun ikut mengabadikan moment tersebut.

Transportasi Sorong - Raja Ampat

Pelabuhan Waisai

Pelabuhan Waisai

Upacara Penyambutan Tamu

Upacara Penyambutan Tamu

Upacara Penyambutan Tamu



Setelah menikmati acara penyambutan, perjalanan tidak berakhir sampai di Waisai, sempat menunggu beberapa saat kapal kecil yang kami sewa datang menjemput mengantarkan ke lokasi peristirahatan, pada saat itu harga sewa kapal Rp. 1.000.000 dengan kapasitas sekitar 8-12 orang, tentu anda bisa join dengan traveller lainnya untuk penyewaan ini, perjalanan dari pelabuhan ke lokasi berikutnya memakan waktu sekitar 30 menit, speed boat pun berlabuh di sebuah Pulau kecil yang bernama Pulau Kri, saya menginap d sebuah home stay / pondokan yg bernama Mangkor Kodon, menginap disini saya dikenakan biaya Rp. 650.000/orang semalam, saat itu sudah mentari sudah mulai tenggelam namun keindahan lautan disekitar pulau masih bisa dinikmati.


Mangkor Kodon 

Pulau Kri


Pulau Kri


Pulau Kri


Sepasang Turis Asing Asal Swiss Yang Sedang Menikmati Suasana Pulau Kri



Kegiatan Rutin Tiap Pagi, Sore dan Malam Hari



Setelah semalaman menginap di Pulau Kri, pada hari ke dua saya memulai menjelajahi Raja Ampat yang terkenal keindahannya, dengan menyewa kapal dengan tarif Rp. 7.000.000/hari saya dan beberapa traveller lainnya menikmati biru tosca langit dan laut mendominasi tempat ini nan di selingi hijau daun menghiasi pulau2x kecil serta gumpalan-gumpalan awan putih bersih menghiasi birunya langit.




Tempat pertama yg didatangi adalah resort yg bernama Raja Ampat Dive resort di Pulau Mansuar yang tidak jauh dari pulau Kri, anda harus merogoh kocek agak dalam jika ingin menginap dipulau ini karena sewa pulau ini bukanlah dengan Rupiah melainkan dengan Euro, mungkin karena yang punya berasal dari Eropa maka mata uang yang dipakai euro.
Gerbang Menuju Pulau Mansuar

Pulau Mansuar 

Raja Ampat Dive Lounge




Mansuar Island



Tak lama berkeliling kapalpun kembali berlayar menuju pulau yang sangat Indah, Piaynemo, sebelum ke Pulau tersebut anda harus ke Piaynemo Cottage dulu untuk meminta izin serta meminta pendamping untuk ke puncak bukitnya, untuk menuju puncak anda pastinya harus mendaki memasukin hutan dan memanjat batu karang, saat dipuncak anda akan menikmati gugusan pulau yg menyatu dari atas puncak bukit karang Piaynemo yang luar biasa indahnya, saya menyarankan agar anda memakai sepatu atau sendal khusus treking saat naik ke puncak bukit ini karena selain mendaki jalan tanah yang licin, anda juga akan memanjat karang-karang runcing di ujung puncaknya tapi semua akan terbayar lunas saat pertama sampai ke puncak bukit dan melihat keindahannya dari atas, sembari mengambil napas karena memanjat, bukannya berlebihan, saya pun sempat speechless juga beberapa saat seakan tidak percaya ini dunia nyata atau lukisan pelukis ternama, sungguh maha karya indah dari Pencipta.


Piaynemo Homestay

Hiu Karang Berenang Hingga Pinggir Pantai

Karang Piaynemo


Karang-karang ini konon kabarnya masih hidup dan terus berkembang setiap tahunnya







Piaynemo merupakan gugusan pulau2x kecil, daerah ini merupakan salah satu tempat indah ke Raja Ampat selain Wayag dan Misool, ada juga yg menyebut Piaynemo is little wayag, tapi tentu saja ke dua tempat ini punya keunikannya masing2x, Piaynemo terdiri dari pulau2x kecil sedangkan wayag pulau-pulaunya lebih memanjang, kabarnya karang2x di sini masih hidup dan terus tumbuh tiap tahunnya.







Piaynemo-Lukisan Indah Maha Pencipta




Puas menikmati Piaynemo perjalanan dilanjutkan menuju Pulau Arborek, salah satu desa wisata di Raja Ampat, perjalanan dari Piaynemo ke Arborek memakan waktu lebih kurang 45-60 menit, disini saya mendapatkan pengalaman yg tidak saya sangka sebelumnya, salah satunya saat berkeliling pulau saya bertemu dengan anak-anak Papua yang sedang berlatih menari dan bernyanyi lagu khas daerah tersebut dan tak kalah serunya saya sempat ikut menari dan bermain bersama mereka bahkan ikut belarian bersama mereka ke dermaga, hhhmmm... jadi teringat masa kecil.

Pulau Arborek Dari Lautan

Pulau Arborek




Pengalaman lain yang tak kalah berharganya adalah pada saat di Arborek saya bertemu dengan para relawan dari Barefoot, mereka adalah para relawan yang bertugas mengajar anak-anak Papua di sekolah maupun di luar serta mengajarkan kepada penduduk setempat beberapa hal yang berguna untuk mereka seperti bercocok tanam, diantara para relawan saya bertemu dengan seorang wanita dari Indonesia dan betapa kagetnya saat tau bahwa dia adalah satu-satunya orang Indonesia yg menjadi bagian dari relawan, nanti akan saya bahas khusus tentang wanita ini di blog saya berikutnya.

Ikan Asin yang dijemur oleh penduduk lokal... Nikmatnya :)

Anak-Anak Papua Sedang Berlatih Tari

Bersama anak-anak Arborek
Coral di Arborek dapat dilihat dari atas dermaga


Puas menghabiskan waktu bermain bersama anak-anak penduduk Arborek saya pun kembali ke Pulau Kri untuk beristirahat sebentar dan ternyata pulau Kri memberikan sensasi berbeda di siang hari, air laut pun surut dan kapal kami terpaksa berlabuh agak jauh dari Pulau.

Pasang Surut di Pulau Kri Membuat Saya Harus Nyemplung ke Laut

Saat Pasang Surut Pulau Kri Terhubung dengan Pulau Seberangnya


Setelah perut kenyang, sore hari saya beranjak ke pulau berikutnya, Desa Wisata Sauwan Darek, Desa ini berjarak sekitar 45 menit dari Pulau Kri dimana selain snorkling pedesaan di pulau ini cukup elok untuk dikunjungi.
                                                                                     Gerbang Masuk Pedesaan




Rumah Ibadah


Rumah Penduduk 


Satu-satunya Sekolah yang Saya Temui di Pulau ini



Setelah seharian berkeliling lautan raja ampat, kapalpun kembali ke pulau Kri dan kembali ke Sorong Esok hari, sangat kurang waktu terasa bagi saya menikmati surga di timur Indonesia ini tapi saya pasti akan kembali ke Raja Ampat, masih banyak tempat yang belum dijelajahi.


 Regards,




Note : 
  • Photo by : Harry Potret (blaxxx photology), Wikipedia, etc.
  • Saya dan teman di Sorong bekerja sama membuka trip ke Raja Ampat, jika berminat silahkan email ke : harry.fitra@gmail.com atau ke Socmed saya.


























No comments:

Post a Comment