Raja Ampat, kata2x itu sudah ada
dibenak saya beberapa tahun yang lalu untuk saya kunjungi, dan akhirnya impian
itu terwujud. Banyak pengalaman baru yang saya dapatkan di sana termasuk betapa
eloknya pemandangannya yang tiada duanya, sekarang saya akan berbagi sedikit
pengalaman beserta beberapa gambar yang sempat diabadikan.
Pemandangan dari Pesawat saat akan mendarat di Sorong
Raja Ampat terletak di Propinsi
Papua Barat, dari namanya sudah ketahuan asal dari Raja Ampat yang berarti
empat raja dengan empat pulau utama yaitu Misool, Waigeo, Salawati dan Batanta.
Untuk ke sana anda harus melakukan perjalanan yang bisa dibilang sangat panjang
dan melelahkan, dari daerah asal anda harus ke kota Sorong terlebih dahulu, di
sana anda akan mendarat di Bandara Dominique Edward Osok, hampir semua maskapai
terutama dari Jakarta mendarat di pagi hari di sana, perjalanan dilanjutkan ke
Waisai dengan menaiki kapal besar tidak jauh dari bandara namun jadwal
keberangkatan kapal hanya sekali sehari yaitu pada pukul 14.00 WIT kecuali pada
Jum’at ada kapal pagi sekitar jam 9, namun sembari menunggu kapal anda bisa
berkeliling kota Sorong terlebih dahulu, ada salah satu tempat yang menjadi ikon
kota Sorong yaitu Pagoda Sapta Ratna, sayang sekali pada saat ke
sana sedang ada acara keagamaan jadi saya tidak diperkenankan untuk masuk dan
mengambil gambar.
Peta Raja Ampat
Suasana Di depan Bandara
Jalanan Kota Sorong
Ternyata di Sorong juga ada Rumah Makan Padang, Perut dijamin aman
Pada Malam Hari Banyak Penjual Makanan Sea Food
Setelah berkeliling kota dan
beristirahat, tepat pukul 13.30 WIT saya berangkat ke pelabuhan Sorong, pelabuhan
ini terletak tak jauh dari bandara, walau perjalanan sempat tertunda beberapa
menit dari jadwal semula jam 14.00 WIT namun kapal tetap berangkat menuju
Pelabuhan waisai, tarif kapal cepat ekonomi sekitar Rp. 130.000, untuk VIP Rp.
220.000, saya menyarankan anda membeli tarif ekonomi saja karena sungguh sayang
jika anda jauh-jauh menyeberang ke Raja Ampat tapi tak menikmati lautannya, di
kapalpun saya kembali bertemu teman baru dari Belanda, Gidon namanya, di atap
kapal kami sempat bercengkrama dan bercerita tentang Amsterdam, Ajax, Bali dan
Jakarta tentunya, sempat pula saya menceritakan tentang daerah2x yg sempat di kunjungi
di Indonesia dan dia tertarik untuk berkunjung terutama ingin sekali merasakan
sensasi berenang bersama ubur-ubur di Kakaban.
Menuju Kapal (Pelabuhan Kota Sorong)
Kapal-kapal yang bersandar di Pelabuhan Kota Sorong
Gidon, Teman baru asal Belanda yang saya kenal di atap kapal
Meninggalkan Kota Sorong
Suasana di dalam Kapal
Sekitar jam 16.30 WIT kapal
mendarat di Pelabuhan Waisai, setiba di sana kami disambut oleh tarian Khas
Papua, kebetulan saat itu ada kunjungan dari seorang pejabat pemerintahan jadi
kami ikut merasakan sambutan dari para musisi dan anak-anak asli Papua, tanpa
berpikir lama2x saya mengeluarkan kamera dan mengabadikan tarian penyambutan
tersebut “that’s cool, wonderfull” kata Gidon, dia pun ikut mengabadikan moment
tersebut.
Transportasi Sorong - Raja Ampat
Pelabuhan Waisai
Pelabuhan Waisai
Upacara Penyambutan Tamu
Upacara Penyambutan Tamu
Upacara Penyambutan Tamu
Setelah menikmati acara
penyambutan, perjalanan tidak berakhir sampai di Waisai, sempat menunggu
beberapa saat kapal kecil yang kami sewa datang menjemput mengantarkan ke
lokasi peristirahatan, pada saat itu harga sewa kapal Rp. 1.000.000 dengan
kapasitas sekitar 8-12 orang, tentu anda bisa join dengan traveller lainnya
untuk penyewaan ini, perjalanan dari pelabuhan ke lokasi berikutnya memakan waktu
sekitar 30 menit, speed boat pun berlabuh di sebuah Pulau kecil yang bernama
Pulau Kri, saya menginap d sebuah home stay / pondokan yg bernama Mangkor
Kodon, menginap disini saya dikenakan biaya Rp. 650.000/orang semalam, saat itu sudah mentari sudah mulai tenggelam namun keindahan lautan
disekitar pulau masih bisa dinikmati.
Mangkor Kodon
Pulau Kri
Pulau Kri
Pulau Kri
Sepasang Turis Asing Asal Swiss Yang Sedang Menikmati Suasana Pulau Kri
Kegiatan Rutin Tiap Pagi, Sore dan Malam Hari
Setelah semalaman menginap di
Pulau Kri, pada hari ke dua saya memulai menjelajahi Raja Ampat yang terkenal
keindahannya, dengan menyewa kapal dengan tarif Rp. 7.000.000/hari saya dan
beberapa traveller lainnya menikmati biru tosca langit dan laut mendominasi
tempat ini nan di selingi hijau daun menghiasi pulau2x kecil serta gumpalan-gumpalan awan putih bersih menghiasi birunya langit.
Tempat pertama yg didatangi
adalah resort yg bernama Raja Ampat Dive resort di Pulau Mansuar yang tidak
jauh dari pulau Kri, anda harus merogoh kocek agak dalam jika ingin menginap
dipulau ini karena sewa pulau ini bukanlah dengan Rupiah melainkan dengan Euro,
mungkin karena yang punya berasal dari Eropa maka mata uang yang dipakai euro.
Gerbang Menuju Pulau Mansuar
Pulau Mansuar
Raja Ampat Dive Lounge
Mansuar Island
Tak lama berkeliling kapalpun kembali
berlayar menuju pulau yang sangat Indah, Piaynemo, sebelum ke Pulau tersebut anda harus
ke Piaynemo Cottage dulu untuk meminta izin serta meminta pendamping untuk ke
puncak bukitnya, untuk menuju puncak anda pastinya harus mendaki memasukin hutan dan memanjat batu karang, saat dipuncak anda akan menikmati gugusan pulau yg menyatu dari atas
puncak bukit karang Piaynemo yang luar biasa indahnya, saya menyarankan agar anda
memakai sepatu atau sendal khusus treking saat naik ke puncak bukit ini karena
selain mendaki jalan tanah yang licin, anda juga akan memanjat karang-karang runcing
di ujung puncaknya tapi semua akan terbayar lunas saat pertama sampai ke puncak
bukit dan melihat keindahannya dari atas, sembari mengambil napas karena
memanjat, bukannya berlebihan, saya pun sempat speechless juga beberapa saat
seakan tidak percaya ini dunia nyata atau lukisan pelukis ternama, sungguh maha
karya indah dari Pencipta.
Piaynemo Homestay
Hiu Karang Berenang Hingga Pinggir Pantai
![]() |
| Karang Piaynemo |
![]() |
| Karang-karang ini konon kabarnya masih hidup dan terus berkembang setiap tahunnya |
Piaynemo merupakan gugusan
pulau2x kecil, daerah ini merupakan salah satu tempat indah ke Raja Ampat
selain Wayag dan Misool, ada juga yg menyebut Piaynemo is little wayag, tapi
tentu saja ke dua tempat ini punya keunikannya masing2x, Piaynemo terdiri dari
pulau2x kecil sedangkan wayag pulau-pulaunya lebih memanjang, kabarnya karang2x di sini
masih hidup dan terus tumbuh tiap tahunnya.
Piaynemo-Lukisan Indah Maha Pencipta
Puas menikmati Piaynemo
perjalanan dilanjutkan menuju Pulau Arborek, salah satu desa wisata di Raja
Ampat, perjalanan dari Piaynemo ke Arborek memakan waktu lebih kurang 45-60 menit,
disini saya mendapatkan pengalaman yg tidak saya sangka sebelumnya, salah
satunya saat berkeliling pulau saya bertemu dengan anak-anak Papua yang sedang
berlatih menari dan bernyanyi lagu khas daerah tersebut dan tak kalah serunya
saya sempat ikut menari dan bermain bersama mereka bahkan ikut belarian bersama
mereka ke dermaga, hhhmmm... jadi teringat masa kecil.
Pulau Arborek
Pengalaman lain yang tak kalah
berharganya adalah pada saat di Arborek saya bertemu dengan para relawan dari
Barefoot, mereka adalah para relawan yang bertugas mengajar anak-anak Papua di
sekolah maupun di luar serta mengajarkan kepada penduduk setempat beberapa hal
yang berguna untuk mereka seperti bercocok tanam, diantara para relawan saya
bertemu dengan seorang wanita dari Indonesia dan betapa kagetnya saat tau bahwa
dia adalah satu-satunya orang Indonesia yg menjadi bagian dari relawan, nanti akan
saya bahas khusus tentang wanita ini di blog saya berikutnya.
Ikan Asin yang dijemur oleh penduduk lokal... Nikmatnya :)
Anak-Anak Papua Sedang Berlatih Tari
Bersama anak-anak Arborek
Coral di Arborek dapat dilihat dari atas dermaga
Puas menghabiskan waktu bermain
bersama anak-anak penduduk Arborek saya pun kembali ke Pulau Kri untuk beristirahat sebentar dan ternyata pulau Kri memberikan sensasi berbeda di siang hari, air laut pun surut dan kapal kami terpaksa berlabuh agak jauh dari Pulau.
Pasang Surut di Pulau Kri Membuat Saya Harus Nyemplung ke Laut
Saat Pasang Surut Pulau Kri Terhubung dengan Pulau Seberangnya
Setelah perut kenyang, sore hari saya beranjak ke pulau berikutnya, Desa
Wisata Sauwan Darek, Desa ini berjarak sekitar 45 menit dari Pulau Kri dimana selain snorkling pedesaan di pulau ini cukup elok untuk dikunjungi.
Gerbang Masuk Pedesaan
Gerbang Masuk Pedesaan
Rumah Ibadah
Rumah Penduduk
Satu-satunya Sekolah yang Saya Temui di Pulau ini
Setelah seharian berkeliling
lautan raja ampat, kapalpun kembali ke pulau Kri dan kembali ke Sorong Esok
hari, sangat kurang waktu terasa bagi saya menikmati surga di timur Indonesia
ini tapi saya pasti akan kembali ke Raja Ampat, masih banyak tempat yang belum dijelajahi.
Regards,
Note :
- Photo by : Harry Potret (blaxxx photology), Wikipedia, etc.
- Saya dan teman di Sorong bekerja sama membuka trip ke Raja Ampat, jika berminat silahkan email ke : harry.fitra@gmail.com atau ke Socmed saya.







































No comments:
Post a Comment