Monday, June 29, 2015

Bertamu ke Kampung Naga




KAMPUNG NAGA

Pada beberapa saat lalu saya melanjutkan petualangan menuju sebuah daerah dimana pada saat  traveling ke Baduy Dalam mendapat info dari teman seperjalanan bahwa ada sebuah kampung yang sama seperti masyarakat Baduy dimana mereka masih tetap menjaga kebudayaan nenek moyang mereka hingga saat ini, rasa penasaran makin memuncak saat sekembalinya dari Baduy, kampung itulah yang bernama bernama Kampung Naga.

Perjalanan Saya Kali ini Ditemani oleh Teman-Teman dari Duta BUMN
(Ki-Ka : Fathur, Me, Santi, Ary & Badar)

Tugu Kujang Pusaka Akan Menyambut Anda Saat Sampai di Kampung Naga


Kampung Naga terletak di Daerah Jawa Barat, tepatnya di Desa Neglasari, Tasikmalaya, sebenarnya tidak susah menuju kampung ini karena lokasinya dekat dengan jalan raya, tepatnya diantara Garut dan Tasikmalaya, sebelum memasuki daerah Kampung Naga anda akan melihat Tugu Kujang Raksasa yang kabarnya kujang tersebut tempaan dari ratusan senjata termasuk senjata para raja Sunda dan Nusantara, setelah melewati Tugu tersebut petualanganpun dimulai, pertama-tama dikarenakan loikasinya ditengah lembah, anda harus menuruni ratusan anak tangga untuk menuju kampung ini yang berujung di sungai Ciwulan dan anehnya tidak ada yang tau tepat jumlah anak tangga tersebut, konon katanya jumlahnya selalu berubah-ubah saat dihitung, tapi, siapa yang bisa konsentrasi menghitung jika anak tangganya sampai ratusan dan menurun dengan panjang  sekitar 500 meter??? menjajakinya aja sudah bikin ngos-ngosan, tapi saat anda sampai di perkampungan akan serasa kembali suasana desa berpuluh-puluh tahun yang lalu, dimana tidak adanya hiruk kendaraan bermotor apalagi alat-alat elektronik dan komunikasi, oiya listrik juga tidak mengalir disini, ya memang masyarakat Kampung Naga mempertahankan budaya dari nenek moyangnya dan budaya mereka tersebut menjadi daya Tarik dari para peneliti baik dalam maupun luar negeri untuk mempelajarinya.

Pintu Masuk Menuju Kampung Naga
Tangga Menuju Kampung Naga
Suasana Asri Kampung Naga

Saat sampai di Kampung Naga saya sangat beruntung mendapatkan sambutan yang sangat ramah dari tuan rumah, saya menginap di Rumah Mang Kus yang ternyata salah satu orang yang sangat dikenal di sana dan ternyata selepas pulang dari Kampung Naga Mang Kus sering masuk ke layar TV memandu para wartawan atau presenter berkeliling Kampung.



Para Duta BUMN sedang Berdiskusi dengan Mang Kus

Makan Bersama Di Rumah Mang Kus


Masakan Sederhana Namun dengan Rasa yang Luar Biasa

Dapur Rumah Penduduk Kampung Naga


Para Pengunjung/wisatawan domestik mendengarkan arahan dan presentasi dari penduduk lokal

Sampai sekarang belum ada info pasti asal muasal dari Kampung Naga, dari cerita-cerita kami dengan Mang Kus di rumahnya Warga kampung Naga sendiri menyebut sejarah kampungnya dengan istilah "Pareum Obor”, jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, Pareum yaitu mati, gelap. Dan obor itu sendiri berarti penerangan, cahaya, lampu. Jika diterjemahkan secara singkat yaitu, matinya penerangan mungkin ini ada hubungannya dengan sejarah kelam di masa lalu, Kampung Naga pernah dibumihanguskan oleh tentara pemberontakan DI TII akibat kesetiaannya dengan pemerintahan saat itu bersama arsip sejarah mereka, hingga saat ini kejadian itu masih diceritakan oleh Mang Kus dan penduduk asli Kampung Naga lainnya.


Satu-satunya Mesjid Di Kampung Naga




Seorang Nenek Menikmati Pagi Di Depan Rumahnya

Pemandangan seperti ini sudah sangat jarang ditemui di kota besar

Pertanyaan yang ada dikepala saya adalah penasaran sama halnya dengan Suku Baduy Dalam, kenapa penduduk Kampung Naga tidak mau memakai listrik, ternyata sama dengan suku Baduy alasannya adalah sudah perintah dari nenek moyang dan kemungkinan karena masa lalu mereka yang dulu pernah dibumi hanguskan oleh salah satu pasukan pemberontakan di Indonesia, ya, apapun yang mereka lakukan mutlak melestarikan warisan dari nenek moyang mereka.


Sebagian besar penduduk Kampung Naga bermatapencaharian bertani dan berladang




Narsis Bareng di Sungai Ciwulan

Salah satu keunikan Kampung Naga adalah bentuk rumah yang seragam dan jumlah rumahnya yang tidak bertambah atau berkurang, jumlah rumah disini tepatnya 113 rumah dengan susunan yang bertingkat-tingkat yang berjumlah 5 tingkatan dari bawah hingga atas dimana rumah penduduk berbentuk rumah panggung dengan dinding dari bambu dan lantai kayu serta atap dari ijuk, ukuran rumah pun sama sekitar 5-8 meter keunikan lain dari rumah-rumah di Kampung Naga adalah tidak adanya kamar mandi, alhasil jika anda mau mandi atau hanya sekedar buang air harus ke tempat yang disediakan dan berada disekitar batas perkampungan,


Rumah penduduk Kampung Naga nan Tertata Rapi dan Menghadap ke Satu  Arah



Kampung Naga Sering dijadikan Tempat Penelitian dari Mahasiswa & Peneliti Baik dalam maupun Luar Negeri

Penduduk Kampung Naga sendiri semua beragama Islam, itu terbukti dari Mesjid yang merupakan satu-satunya rumah Ibadah yang ada dikampung ini, mata pencaharian dari penduduk Kampung Naga sendiri sebagian besar Berladang, namun ada satu tempat yang tidak boleh didatangi yang bernama hutan terlarang yang berada di seberang sungai, saya menyarankan anda mengikuti aturan kampung apalagi tentang hutan terlarang ini.




Di Kampung Naga juga tersedia Tempat Penjualan Asesoris


Sekian dulu cerita saya di Kampung Naga, karena keterbatasan waktu pada saat itu saya hanya bisa memberikan sedikit informasi dan foto-foto, semoga dapat menambah informasi dan motivasi anda dalam mengenal dan menjelajahi negeri ini.   

Fyi :

  • Jika anda ingin ke Kampung Naga bisa dengan naik angkutan umum, jika dari Jakarta anda bisa menaiki Bus ke arah Garut & Singaparna, jangan lupa beritahu sopir atau kondektur agar memberitahukan jika sudah sampai di Kampung Naga.
  • Jika menggunakan kendaraan pribadi saya sarankan anda ke arah Garut terlebih dahulu, lalu bisa bertanya kepada warga setempat.
  • Sebelum ke sini ada baiknya diberitahukan dulu maksud dan tujuannya, untuk informasi bagaimana izin dan informasi lainnya di Kampung Naga silahkan hubungi Mang Endut di 0857-2119-3916.
  • Dikarenakan masyarakat Kampung Naga tidak menggunakan listrik, saangat disarankan anda membawa senter atau alat peneragan lainnya.

No comments:

Post a Comment