Pada beberapa saat lalu saya melanjutkan petualangan menuju
sebuah daerah dimana pada saat traveling
ke Baduy Dalam mendapat info dari teman seperjalanan bahwa ada sebuah
kampung yang sama seperti masyarakat Baduy dimana mereka masih tetap menjaga
kebudayaan nenek moyang mereka hingga saat ini, rasa penasaran makin memuncak
saat sekembalinya dari Baduy, kampung itulah yang bernama bernama Kampung Naga.
 |
Perjalanan Saya Kali ini Ditemani oleh Teman-Teman dari Duta BUMN
(Ki-Ka : Fathur, Me, Santi, Ary & Badar) |
 |
| Tugu Kujang Pusaka Akan Menyambut Anda Saat Sampai di Kampung Naga |
Kampung Naga terletak di Daerah Jawa Barat, tepatnya di Desa
Neglasari, Tasikmalaya, sebenarnya tidak susah menuju kampung ini karena lokasinya
dekat dengan jalan raya, tepatnya diantara Garut dan Tasikmalaya, sebelum
memasuki daerah Kampung Naga anda akan melihat Tugu Kujang Raksasa yang
kabarnya kujang tersebut tempaan dari ratusan senjata termasuk senjata para
raja Sunda dan Nusantara, setelah melewati Tugu tersebut petualanganpun
dimulai, pertama-tama dikarenakan loikasinya ditengah lembah, anda harus
menuruni ratusan anak tangga untuk menuju kampung ini yang berujung di sungai
Ciwulan dan anehnya tidak ada yang tau tepat jumlah anak tangga tersebut, konon
katanya jumlahnya selalu berubah-ubah saat dihitung, tapi, siapa yang bisa konsentrasi
menghitung jika anak tangganya sampai ratusan dan menurun dengan panjang sekitar 500 meter??? menjajakinya aja sudah
bikin ngos-ngosan, tapi saat anda sampai di perkampungan akan serasa kembali
suasana desa berpuluh-puluh tahun yang lalu, dimana tidak adanya hiruk
kendaraan bermotor apalagi alat-alat elektronik dan komunikasi, oiya listrik
juga tidak mengalir disini, ya memang masyarakat Kampung Naga mempertahankan
budaya dari nenek moyangnya dan budaya mereka tersebut menjadi daya Tarik dari
para peneliti baik dalam maupun luar negeri untuk mempelajarinya.
 |
| Pintu Masuk Menuju Kampung Naga |
 |
| Tangga Menuju Kampung Naga |
 |
| Suasana Asri Kampung Naga |
Saat sampai di Kampung Naga saya sangat beruntung
mendapatkan sambutan yang sangat ramah dari tuan rumah, saya menginap di Rumah
Mang Kus yang ternyata salah satu orang yang sangat dikenal di sana dan
ternyata selepas pulang dari Kampung Naga Mang Kus sering masuk ke layar TV
memandu para wartawan atau presenter berkeliling Kampung.
 |
| Para Duta BUMN sedang Berdiskusi dengan Mang Kus |
 |
| Makan Bersama Di Rumah Mang Kus |
 |
| Masakan Sederhana Namun dengan Rasa yang Luar Biasa |
 |
| Dapur Rumah Penduduk Kampung Naga |
 |
| Para Pengunjung/wisatawan domestik mendengarkan arahan dan presentasi dari penduduk lokal |
Sampai sekarang belum ada info pasti asal muasal dari
Kampung Naga, dari cerita-cerita kami dengan Mang Kus di rumahnya Warga kampung
Naga sendiri menyebut sejarah kampungnya dengan istilah "Pareum Obor”,
jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, Pareum yaitu mati, gelap. Dan obor itu
sendiri berarti penerangan, cahaya, lampu. Jika diterjemahkan secara singkat
yaitu, matinya penerangan mungkin ini ada hubungannya dengan sejarah kelam di
masa lalu, Kampung Naga pernah dibumihanguskan oleh tentara pemberontakan DI
TII akibat kesetiaannya dengan pemerintahan saat itu bersama arsip sejarah
mereka, hingga saat ini kejadian itu masih diceritakan oleh Mang Kus dan
penduduk asli Kampung Naga lainnya.
 |
| Satu-satunya Mesjid Di Kampung Naga |
 |
| Seorang Nenek Menikmati Pagi Di Depan Rumahnya |
 |
| Pemandangan seperti ini sudah sangat jarang ditemui di kota besar |
Pertanyaan yang ada dikepala saya adalah penasaran sama
halnya dengan Suku Baduy Dalam, kenapa penduduk Kampung Naga tidak mau memakai
listrik, ternyata sama dengan suku Baduy alasannya adalah sudah perintah dari
nenek moyang dan kemungkinan karena masa lalu mereka yang dulu pernah dibumi
hanguskan oleh salah satu pasukan pemberontakan di Indonesia, ya, apapun yang
mereka lakukan mutlak melestarikan warisan dari nenek moyang mereka.
 |
| Sebagian besar penduduk Kampung Naga bermatapencaharian bertani dan berladang |
 |
| Narsis Bareng di Sungai Ciwulan |
Salah satu keunikan Kampung Naga adalah bentuk rumah yang seragam
dan jumlah rumahnya yang tidak bertambah atau berkurang, jumlah rumah disini tepatnya
113 rumah dengan susunan yang bertingkat-tingkat yang berjumlah 5 tingkatan
dari bawah hingga atas dimana rumah penduduk berbentuk rumah panggung dengan
dinding dari bambu dan lantai kayu serta atap dari ijuk, ukuran rumah pun sama
sekitar 5-8 meter keunikan lain dari rumah-rumah di Kampung Naga adalah tidak
adanya kamar mandi, alhasil jika anda mau mandi atau hanya sekedar buang air
harus ke tempat yang disediakan dan berada disekitar batas perkampungan,
 |
| Rumah penduduk Kampung Naga nan Tertata Rapi dan Menghadap ke Satu Arah |
 |
| Kampung Naga Sering dijadikan Tempat Penelitian dari Mahasiswa & Peneliti Baik dalam maupun Luar Negeri |
Penduduk Kampung Naga sendiri semua beragama Islam, itu
terbukti dari Mesjid yang merupakan satu-satunya rumah Ibadah yang ada
dikampung ini, mata pencaharian dari penduduk Kampung Naga sendiri sebagian
besar Berladang, namun ada satu tempat yang tidak boleh didatangi yang bernama
hutan terlarang yang berada di seberang sungai, saya menyarankan anda mengikuti
aturan kampung apalagi tentang hutan terlarang ini.
 |
| Di Kampung Naga juga tersedia Tempat Penjualan Asesoris |
Sekian dulu cerita saya di Kampung Naga, karena keterbatasan
waktu pada saat itu saya hanya bisa memberikan sedikit informasi dan foto-foto,
semoga dapat menambah informasi dan motivasi anda dalam mengenal dan
menjelajahi negeri ini.
Fyi :
- Jika anda ingin ke Kampung Naga bisa dengan naik angkutan umum, jika dari Jakarta anda bisa menaiki Bus ke arah Garut & Singaparna, jangan lupa beritahu sopir atau kondektur agar memberitahukan jika sudah sampai di Kampung Naga.
- Jika menggunakan kendaraan pribadi saya sarankan anda ke arah Garut terlebih dahulu, lalu bisa bertanya kepada warga setempat.
- Sebelum ke sini ada baiknya diberitahukan dulu maksud dan tujuannya, untuk informasi bagaimana izin dan informasi lainnya di Kampung Naga silahkan hubungi Mang Endut di 0857-2119-3916.
- Dikarenakan masyarakat Kampung Naga tidak menggunakan listrik, saangat disarankan anda membawa senter atau alat peneragan lainnya.
No comments:
Post a Comment