Sunday, November 16, 2014

Lalampahan Ka Baduy


Baduy... sebagian mengira saya mau “ngilmu” ke sana dan sebagian lagi mengira saya terlalu nekad ke sana, Yup hampir semua orang berfikiran negatif saat saya bilang bahwa saya baru kembali dari tempat itu tapi semua yang mereka kira salah, kembali saya menemukan pengalaman baru bersama suku itu.

Tepat di bulan Oktober 2014 saya kembali melakukan perjalanan ke tempat yang bisa dibilang menakutkan dipikiran orang-orang, namun saya berhasil menemukan pengalaman baru  dan cerita baru tentunya betapa salahnya apa yang dipikirkan orang-orang tentang Baduy selama ini, mungkin termasuk anda salah satunya.

Untuk ke Baduy, anda harus ke kota Rangkas Bitung terlebih dahulu, ke kota itu hanya bisa melalui jalan darat, saya menyarankan untuk menghemat waktu diperjalanan anda memakai kereta api dikarenakan jika memakai mobil atau motor dipastikan akan memakan waktu lebih lama dikarenakan kondisi jalan yang tidak bisa ditebak.


Stasiun Rangkas Bitung
Tanda Bukti ;)



Sebelum saya berbagi informasi tentang bagaimana Baduy, mengacu pada pepatah orang Indonesia “tak kenal maka tak sayang” maka dari itu sedikit saya ceritakan silsilah masyarakat Baduy yang saya dapatkan langsung dari orang Baduy-nya sendiri saat saya berada di sana namun sayang sekali di artikel ini anda akan banyak membaca tulisan saya daripada menikmati foto-fotonya bukan seperti diartikel sebelumnya terutama di Baduy Dalam, hal ini dikarenakan mereka sangat melarang foto mereka beredar luas di luar, nanti akan saya ceritakan dibawah.

Selamat Datang di Baduy

Orang/Suku Baduy juga menyebut dirinya orang Kanekes bermukim di Provinsi Banten, tepatnya disekitar wilayah Kabupaten Lebak yang merupakan suku yang hingga saat sekarang masih melestarikan tradisi nenek moyang mereka baik dari kehidupan sehari-hari, aturan adat hingga bagaimana mereka menjaga alamnya. Suku Baduy dibagi menjadi 3 (tiga) yaitu Baduy Luar, Baduy Dalam dan Baduy Dangka, perbedaan mereka dapat dilihat dari warna pakaian yang dikenakan sehari-hari, Baduy luar dengan baju hitamnya dan berikat kepala hitam bermotif batik berwarna biru dan Baduy dalam dengan baju dan ikat kepala putihnya, untuk Baduy Dangka saya tidak ingat menanyakan apa ciri khas mereka dan di sana pun saya tidak bertemu dengan suku ini karena dikabarkan suku ini hanya tinggal 2 desa saja.

Anak-anak Baduy


Nah bicara soal pakaian Baduy, seperti yang kita ketahui bahwa Baduy Luar berwarna hitam dan Baduy Dalam berwarna putih, kenapa mereka memakai 2 warna itu sempat saya tanyakan, jawaban mereka sangat sederhana yaitu termasuk kepada melestarikan tradisi, saat disana saya juga mendapatkan informasi nama pakaian mereka, menurut saya mungkin info ini jarang anda dapatkan di luar karena kebanyakan orang tau pakaian Baduy hanya hitam dan putih, nah saya akan jabarkan apa saja nama dari pakaiannya :
  1. Telekung : merupakan ikat kepala dari masyarakat Baduy kaum laki-laki di Baduy luar ikat kepala ini dasar berwarna hitam dengan motif batik berwarna biru tapi saya menemukan yang berpakaian hitam tp telekung putih, sementara Baduy dalam memakai ikat kepala berwarna putih tanpa motif.
  2. Kutung : adalah baju berlengan panjang tanpa kerah, untuk baduy luar baju ini berwarna hitam polos dan baduy dalam berwarna putih polos
  3. Samping Aros : Sarung/kain yang pakai sebatas lutut, untuk ini suku baduy mempunyai kesamaan pada warna yaitu berwarna hitam dan bergaris putih.
  4. Golok : Dipakai sebagai alat pemotong, untuk golok hanya dibuat di Baduy Luar, Baduy Dalam hanya menggunakannya
Informasi lainnya yang saya dapatkan adalah pada saat malam hari orang baduy mengganti bajunyan dengan berbahan kulit untuk tidur, namun sayang kurang mendapat informasi kenapa berganti baju dengan bahan kulit, jawaban mereka tetap sama "sudah tradisi".

Masing-masing kelompok masyarakat Baduy tersebut mempunyai tugas tersendiri, Baduy Dalam bertugas menjaga alam warisan nenek moyang mereka, sementara baduy luar bertugas mencari informasi ke dunia luar serta Baduy Dangka bertugas menjadi penyaring informasi yang masuk ke Baduy dalam.

Baju Hitam? Berarti Baduy Luar

Baju Putih? Berarti Baduy Dalam

Banyak yang bilang mereka mengisolasi diri mereka dari dunia luar tapi menurut saya kurang tepat, terbukti saat di sana saya masih menemukan alat elektronik di desa-desa baduy luar dan uniknya di Baduy dalam yang orang bilang sangat membatasi diri, saya sempat salah satunya menanyakan siapa Presiden Indonesia yang baru mereka dapat menjawabnya dengan benar dan tahu karir sebelum menjadi Presiden Indonesia, so bagian mana dari masyarakat Baduy yang mengisolasi diri mereka??? oleh karena itu saya berkesimpulan mereka bukan mengisolasi dirinya tapi menjaga dan melestarikan warisan nenek moyang mereka. 


Agama/kepercayaan Baduy adalah Sunda Wiwitan, mereka percaya bahwa mereka salah satu keturunan dari ke 7 dewa yang diutus ke Bumi dan Nabi Adam lah yang menjadi tuntunan mereka, pemimpin suku baduy disebut Pu’un yang bertugas sebagai pengambil keputusan dimasyarakat baduy namun Pu’un tidak diperkenankan untuk keluar dari perkampungan Baduy seperti orang baduy kebanyakan, untuk rumah Pu’un pada baduy dalam berada dilokasi tersendiri begitupun mandi di sungai, pada saat disana saya tidak diperkenankan masuk ke perkarangan rumah Pu’un dan ke tempat pemandiannya mungkin karena lebih ke privacy namun saat ditanyakan apakah perbedaan Pu’un dengan masyarakat lainnya ternyata tidak ada bedanya untuk cara berpakaian ataupun perlakuan terhadapnya sama saja dengan masyarakat Baduy lainnya, mungkin saja salah satu penduduk yang saya ajak bicara adalah sang Pu’un itu sendiri.

Baduy luar mempunyai banyak desa, diantaranya Desa Ciboleger, Cijahe dan lainnya, sedangkan Baduy Dalam hanya ada 3 Desa yaitu Cibeo, Cikeusik & Cikertawana, untuk masuk ke Baduy bisa melalui 2 (dua) jalur yang pertama lewat Ciboleger dan yang ke 2 lewat Cijahe, jika anda ingin berlama-lama di perkampungan Baduy Dalam saya menyarankan anda  untuk masuk lewat Cijahe waktu perjalanan singkat (sekitar 2 jam) namun dengan medan yang agak susah, akan tetapi jika anda ingin menikmati perjalanannya sambil menikmati alam Baduy serta ingin bernarsis ria di Jembatan Akar yang terkenal itu, saya sarankan anda masuk melalui Ciboleger menempuh waktu kira-kira 6 jam sampai ke Baduy Dalam, di pintu masuk Cibolegerpun banyak penjual asesoris terutama kain tenunan, dikarenakan saya ingin merasakan menjadi orang Baduy saya putuskan masuk melewati Desa Cijahe,  perjalanan menuju Cijahe dari Rangkas Bitung memakan waktu kira-kira 2 jam dengan mobil minibus, setelah sampai di Cijahe anda akan melanjutkan perjalanan menuju Baduy dalam, saat itu saya menuju desa cibeo salah satu dari 3 desa di Baduy dalam, dari Cijahe akan menempuh perjalanan 1,5 – 2 jam dalam waktu normal.




Persinggahan sementara desa Cijahe
dari sini anda akan melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki

Ciboleger

Ciboleger

Pintu Masuk Melalui Ciboleger
Suasana Perkampungan Ciboleger




Aneka Kerajinan yang di jual di Kampung Ciboleger

Alat Tenun

Penenun Baduy dan pengunjung yang penasaran bagaimana pembuatan kain tenunan Baduy


Sepanjang Perjalanan dati Cijahe anda akan dimanjakan dengan pemandangan nan hijau serta sesekali bertemu padang tandus sepertinya bekas ladang yang telah dipanen, jika anda malas membawa barang bawaan, masyarakat Baduy bersedia membawa barang bawaan anda, pada saat itu saya tanyakan 1 orang sekitar Rp. 25.000, katanya sih berapapun banyak dan beratnya harganya tetap segitu, dengan barang bawaan yang beragam berat dan banyaknya di badan, mereka masih kuat berjalan naik turun bukit tanpa masalah.

Pintu Masuk Menuju Baduy Lewat Cijahe









Pada saat melakukan perjalanan ini saya sarankan anda membawa banyak air minum, cemilan ringan atau madu, dikarenakan disini anda hanya akan sesekali bertemu orang-orang yang melintas, itupun mereka tidak menjual minuman, jika anda masuk dari Cijahe hanya akan bertemu 1 pondok yang menjual minum, setelah itu jangan berharap akan bertemu lagi.









Jika melewati jalur Cijahe, walau waktu relatif singkat
tapi hanya jalan setapak dan hutan yang ditemui

Setelah melakukan perjalanan di Baduy luar tibalah saatnya saya di sebuah jembatan bambu yang merupakan perbatasan antara Baduy Luar dan dalam, artinya semua alat komunikasi, elektronik dan sebagainya harus dimatikan, kontak dengan dunia luarpun harus diputuskan.

Setelah melewati jembatan ini, putuslah kontak dengan Dunia Luar
Selamat Datang di Baduy Dalam

Setelah melakukan perjalanan sekitar 30 menit dari jembatan perjalanan, anda akan melewati sebuah kampung yang bernama Cikertawana, pada saat saya memasuki kampung itu tidak ada satupun penduduk yang terlihat, semua pintu tertutup rapat hanya beberapa hewan ternak saja yang terlihat berkeliaran diluar, setelah ditanya ternyata mereka semua sedang berada di ladang yang beragam jaraknya, rata-rata pencaharian masyarakat Baduy adalah berladang dan konon kabarnya hasil ladang diambil bukan untuk dijual keluar, melainkan dilingkungan mereka sendiri ada jg yang bilang sebagai alat tukar menukar.

Tak lama berjalan akhirnya sampailah saya di Desa Cibeo, pemandangan pertama yang saya lihat adalah penduduk cibeo sedang duduk didepan rumahnya serta kerumunan penjual yang menawarkan aneka asesoris khas Baduy, dimulai dari gelang, kalung, mainan kunci, baju kaos, kain tenunan dan lain-lain, anda harus pintar tawar menawar agar tidak membeli dengan harga mahal.

Setelah membeli sedikit asesoris saya diantarkan ke salah satu rumah penduduk, rumah mereka dibangun dengan cara gotong royong dan berasal dari bahan alam, lantai kayu/rotan beratapkan daun kelapa kering, uniknya rumah di perkampungan ini berbentuk sama persis dan menghadap ke satu arah serta hanya mempunyai 1 pintu dan tanpa jendela, satu lagi keunikan rumah Baduy dalam yang jarang orang tau, saya berani bertaruh anda tidak akan menemukan satupun paku yang menancap dirumah ini, mereka menggunakan tali untuk menghubungkan satu kayu/bambu ke kayu/bambu lainnya.


Jembatan di Baduy umumnya seragam dan tidak menggunakan paku
hanya tali untuk menyambung antara satu bambu dengan bambu lainnya

Saat di sana saya sengaja tidak memakai sendal kemanapun saya berjalan agar lebih merasakan menjadi urang Baduy, di sanapun semua pengunjung diharuskan mengikuti aturan yang berlaku seperti tidak membuang sampah, mandipun ditetapkan sungainya lokasinya dimana, termasuk urusan buang hajat tidak disamakan tempatnya, satu yang terpenting, memakai sabun, odol atau benda yang mengandung bahan kimia dilarang keras di sini karena akan mencemari lingkungan mereka, dengan kata lain anda harus bersih-bersih tanpa sabun, menurut kepercayaan mereka Dewi mereka yaitu Dewi Sri tidak suka dengan bahan-bahan kimia dan akan marah dan berakibat gagal panen jika dilanggar, itu menurut mereka namun logikanya memang jika tanaman dan tanah  terkena bahan kimia akan menjadi tidak subur, satu lagi saya ingatkan, bahwa tempat mandi umum dengan Pu’un berbeda, sama dengan rumahnya tempat pemandian Pu’un tidak boleh juga dilewati apalagi anda mandi disana.

Penduduk Baduy Sedang Membawa Hasil Ladangnya


Nah mungkin dari tadi anda mungkin bertanya, kenapa artikel saya yang satu ini minim foto banyak tulisannya? Ya selain dilarang menggunakan barang elektronik di Baduy dalam, juga sangat dilarang keras mengambil gambar, itulah salah satu pertanyaan yang ingin sekali saya tanyakan, ternyata alasan utama mereka adalah karena Orang Baduy tidak mau menjadi tontonan, mereka ingin menjadi tuntunan dan ini juga salah satu bentuk mereka menjaga kelestarian alam mereka dan juga mereka tidak mau hasil foto mereka diperjualbelikan di luar sana, oiya satu lagi pertanyaan saya yang ingin sekali ditanyakan yaitu masalah “ngilmu” dimana Baduy identik dengan hal-hal mistis, awalnya saya mengira disana serba mistis dan bakalan ketemu makhluk halus di sana, untungnya tidak pernah, dan saat pertanyaan saya mengarah kepada orang-orang yang meminta “sesuatu” kepada mereka, merekapun menjawab memang ada orang-orang yang datang ke sana khusus untuk meminta “sesuatu”, namun saat saya tanyakan apa berhasil semua mereka jawab “tidak juga” dilanjutkan dengan “ya namanya mereka minta do’a sama kita Kang, ya kita do’akan, urusan diterima atau tidak mah terserah yang di Atas” alias sebenarnya do’a mereka dengan kita sama saja, alangkah lebih baik yang meminta langsung adalah kita sendiri melalui Do’a kepada Tuhan, so, menurut anda bagian mana Baduy yang horor atau mistis???

Cidera Mata dari Baduy

Sekian cerita pengalaman saat di Baduy, saya beruntung sudah merasakan sendiri kehidupan suku Baduy seperti yang pernah diceritakan oleh guru Antropologi saya saat SMA dulu.

Candid Photo by : Fajar


Salam Petualang :)

Fyi :

  • Masyarakat Baduy sangat menjaga tradisi dan alamnya, sangat diharapkan agar anda menjaga sikap dan tingkah laku terutama ikuti aturan-aturan dari mereka.
  • Dikarenakan listrik tidak diperkenankan masuk oleh masyarakat Baduy, sangat disarankan anda membawa senter untuk penerangan malam hari 
  • Untuk mandi, sikat gigi dan bersih-bersih lainnya sangat dilarang keras memakai sabun, odol atau yang mengandung barang kimia, solusi anda bisa pakai dedaunan sekitar untuk menggosok badan..
  • Lokasi pemandian dan buang hajat dipisahkan, pemandian warga & umun dengan Pu'un juga dipisahkan, diharapkan bertanya terlebih dahulu.
  • Menurut aturan Baduy, dilarang menyorot lampu senter apalagi masuk ke areal rumah Pu'un diharapkan anda kembali bertanya lokasi rumah Pu'un tsb dimana.


3 comments: