Wednesday, March 28, 2018

SUMBA



PESAN DARI TANAH SUMBA
(Episode 1)





Perjalanan saya kali ini berlanjut kembali ke arah timur Indonesia, sebuah pulau kecil dibelahan selatan Nusa Tenggara Timur, Pulau Sumba namanya, banyak orang susah membedakan antara Sumba dan Sumbawa yang berada di Nusa Tenggara Barat, namun di artikel ini saya akan menyuguhkan indahnya alam Sumba… Intan tersembunyi di Selatan Indonesia… 



      
      1. Bukit Lendongara

    Destinasi pertama saya sesampainya di Pulau Sumba adalah Bukit LDR atau Ledongara, jika orang bilang LDR itu tidak enak beda cerita dengan bukit yang 1 ini, hamparan savanna dengan rerumputan yang mulai mengering terlihat sejauh mata memandang, saat itu sedang baru saja musim kemarau di sana, mungkin akan memberikan sensasi berbeda saat datang dimusin hujan, saat rumput tumbuh subur, pasti hijau sepanjang bukit.









    Bukit LDR terletak sekitar 10 km dari Bandara Tambolaka, untuk ke sini saya menyarankan naik mobil jika anda tak tahan panasnya, ya bagi saya orang Sumatera, cuaca Sumba saat itu cukup panas atau bisa juga menaiki motor, untuk ke Bukit ini masih gratis alias tidak dipungut biaya karena memang posisi Bukit ini berada di kiri dan kanan jalan yang biasa dilalui penduduk sana, bagi saya singgah sebentar di bukit ini adalah ide yang tepat untuk pemanasan Sumba trip saya.


Windows Screen Picture in my Country








2. Pantai Bwana


Batu bolong khas pantai Bwana


    Setelah pemanasan dengan Bukit LDR, saatnya kita menuju salah satu ikonnya pantai di pulau ini, Pantai Bwana, keunikan pantai ini adalah batu bolong ditengahnya mirip seperti gerbang, untuk ke sini membutuhkan waktu sekitar 2 jam dari bandara/Bukit LDR, saya merekomendasikan anda ke sini saat sunset yang kabarnya sangat indah disaat cahaya matahari berada di tengah bolong batunya, namun sayang sekali saat saya sampai ke sana hari mulai mendung, jadi tak banyak yang bisa saya lakukan di sana, apalagi jalanan berlumpur menuju lokasi dan harus turun dulu agar sampai ke batu bolong tersebut, alhasil lebih baik saya menikmati keindahan batu dan pantai tersebut dari kejauhan, diambil hikmahnya saja, mungking Bwana menginginkan saya kembali ke sana.






Saat kembali dari pantai ini… mobil kami terperangkap di tengah lumpur dan memutuskan meninggalkan driver dan mobilnya menuju kampung terdekat berjalan kaki ditengah kegelapan, iya tak ada lampu jalan hanya bermodal senter membelah savanna Sumba, untuk cerita ini mugkin saya simpan untuk diceritakan secara langsung saat bertemu.







      3. Danau Weekuri





Destinasi selanjutnya adalah Danau Waekuri, bukan ke Sumba anda namanya jika belum ke danau ini yang berlokasi di Desa KalenarogoKecamatan Kodi Utara bernama Danau Waekuri.



Danau Waekuri terletak di barat pulau Sumba, dari Bandara menempuh jarak sekitar 40-45 km dengan durasi wakti sekitar 2 jam menuju lokasi, dimulai jalan mulus beraspal hingga menerobos semak belukar, namun keindahan sepanjang perjalanan menuju danau tersebut membuat anda ingin berhenti sejenak dan mengabadikan setiap moment yang ada, salah satunya foto-foto dibawah ini, saat melihat ranting pohon kering mobil berhenti sejenak dan saya bersiap mengeluarkan kamera, sayang sekali momen2x seperti ini dilewatkan.



Gambar menarik bisa didapat saat perjalanan


Weekuri berasal dr kata Wee yang berarti air dan kuri yang berarti percikan, jadi mitosnya dulu Danau tersebut sebuah kampung yang tenggelam menjadi danau tersebut, namun cerita lain danau tersebut terbentuk dari proses alamiah dan air di dalamnya berasal dari air laut yang berada tak jauh dari sana, weekuri mempunyai keunikan, danau berair asin ini terlihat seperti laguna di atas batu karang yang tinggi yang katanya terbentuk dari air laut Sumba, air danaunya pun sangat jernih berawarna hijau kebiru-biruan, ingin rasanya langsung melompat ke danau tersebut karena kadar keasinan danau ini hamper sama dengan air laut, maka anda bisa mengapung dengan mudahnya di danau tersebut, namun tetap hati-hati karena bebatuan karang di sini yg beragam, ada yg kasar dan ada juga yg licin terutama saat berjalan menyusuri pinggiran karang, bisa2x anda langsung terjatuh ke danau.








4. Kampung Adat Ratenggaro


    Kampung Ratenggaro adalah salah satu dari sekian banyak desa yang hingga saat ini masih memegang erat budaya leluhurnya, selain rumah adat dan kebiasaannya, di kampung ini masih ada kuburan batu para leluhur mereka yang sudah disemayamkan bertahun-tahun lamanya.


Uma Bokulu atau Uma Mbatangu




Kampung ini berada di daerah Desa Umbu Ngedo, Sumba, seperti yang sempat saya singgung di atas, ciri khas dari kampung ini adalah rumah adatnya terutama atap-atapnya yang mengerucut menjulang tinggi ke atas, bahkan ada yang melebihi 10 meter, asal muasal dari Ratenggaro adalah berasal dari kata Rate yang berarti kuburan dan Garo yang dimaksud adalah orang-orang Garo,di Kampung ini anda akan merasa dibawa oleh mesin waktu ke sekitar 4500 tahun yang lalu dikarenakan rumah dan kuburuan-kuburan batu yang masih bertahan hingga sekarang.



Walaupun sudah ada kendaraan mesin, masyarakat Sumba tetap mempertahankan berkuda



Selain Kampungnnya, Ratenggaro juga menyuguhkan keindahan alam disekitarnya, sungai-sungai dan laut terbentang luas dengan Indahnya dan saat disini saya mendapatkan sunset yang sempurna.












Salah satu sunset terbaik dalam hidup saya dapatkan di Pantai Ratenggaro 


  
5    5. Kampung Adat Praijing



Sama halnya dengan Ratenggaro, Kampung adat Praijing juga menyuguhkan keindahan dan keelokan pedesaan khas sumba, mulai dari RUmah adat hingga budayanya, saat saya ke sini secara umum tidak ada yang berbeda terlihat, hanya perbedaan lokasi, jika Ratenggaro berada tepat dibibir Pantai, Kampung Praijing berada di atas Bukit.







Masyarakat asli Kampung Adat Praijing




Kampung Praijing berada di Desa Terbara, Wakaibubak, Sumba, info yang saya dapatkan di sini terdapat 38 Rumah dan sempat hangus terbakar ditahun 2000 dulu, namun keindahan desa ini tak hilang dan dapat kembali seperti semula seperti yang anda lihat di foto di bawah ini.


Nah Rumah adat Sumba disebut Uma Bokulu atau Uma Mbatangu. Uma Bokulu berarti rumah besar dan Uma Mbatangu adalah rumah Menara yang berbentuk rumah panggung dan memiliki atap yang menjulang tinggi seperti Menara.






Rumah adat terbagi menjadi tiga bagian. Bagian bawah digunakan untuk memelihara hewan ternak, bagian tengah untuk penghuninya dan atas atau menara untuk menyimpan bahan makanan.




Nah sampai disini dulu saya berbagi pengalaman di Sumba, tenang masih ada destinasi selanjutnya di Sumba yang akan saya bahas di artikel berikutnya dan yang pastinya lebih menarik, salah satunya adalah adanya Sakura di Pulau Sumba dan hanya tumbuh selama 2 bulan dalam setahun, penasaran? tunggu artikel selanjutnya.

To be continued...

Fyi:

  • Penerbangan ke Sumba  tersedia setiap hari namun tidak ada yang Direct rata-rata transit di Bali, ini bisa dijadikan rencana tambahan jika anda ke Sumba, bisa menambah liburan di Bali sebelum atau setelah berpetualang di Sumba
  • Di Sumba terdapat 2 (Dua) Bandara, Bandara Tambolaka yang berada di Kota Tambolaka di Sumba Barat dan Bandara Umbu Mehang Kunda yang berada di Waingapu Sumba Timur
  • Untuk mendarat dan memulai perjalanan anda bisa memulai dari salah satu bandara, namun saya sangat merekomendasikan untuk memulai dari Tambolaka dan berakhir Di Waingapu, kenapa? baiknya dicoba sendiri.
  • Jangan khawatir untuk penginapan, banyak hotel/penginapan di sini dan sudah bisa dipesan online
  • Jika ada anak-anak yang meminta uang sebaiknya jangan diberikan, saya tidak perlu menjelaskan detail untuk ini, baiknya bawa makanan kecil, permen atau coklat untuk diberikan 


No comments:

Post a Comment